DICARI “PROBLEM SOLVER” PENDIDIKAN

Mutu pendidikan merupakan permasalahan yang sistemik yang harus segera dicarikan solusinya, agar tidak terjadi kebangkrutan kualitas bangsa. Permasalahan mutu pendidikan dapat diidentifikasi dari indikator-indikatornya, di antaranya adalah hasil belajar. Pada jenjang pendidikan dasar prestasi belajar yang dicapai siswa lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Hasil studi yang dilakukan oleh Moegiadi (1976) dan Suryadi (1989) dalam BAN 2003 menunjukkan bahwa kemampuan rata-rata siswa SD kelas 6 untuk pelajaran pokok (Bahasa Indonesia, Matematika, IPS) adalah 35,33, dan 37 pada tahun 1976, sedangkan pada tahun 1989 menjadi 27,7 ; 21,5; dan 24,2 dibandingkan dengan standar penguasaan (50%).

Dalam skala internasional, studi yag dilakukan oleh International Association for the Evaluation of Educational Achievement (IAEA) pada tahun 1992 ditemukan bahwa ketrampilan membaca siswa kelas IV SD berada di tingkat terendah, yaitu (1) Hongkong 75,5 ; Singapura 74,0 ; Thailand 65,1 ; Filipina 52,6 ; dan Indonesia 51,7. Berdasarkan hasil penelitian tersebut bahwa anak-anak Indonesia ketrampilan membacanya sangat rendah atau paling redah.

Untuk tingkat SMP IAEA (1999) melaporkan bahwa diantara 38 negara yang disurvey, prestasi SMP Kelas 2 Indonesia berada pada urutan ke-32 untuk IPA dan ke-34 untuk Matematika.

Begitu pula hasil Uji TIMSS 2007,  International Science Report Findings from IEA’s Trendsin International Mathematics And  Science Study at the Fourth and Eighth Grades, Indonesia  menempati urutan ke 36 dengan perolehan skore 427.  Dibandingkan dengan beberapa Negara ASEAN lainnya seperti Thailand 471 (23), Malaysia 471(22), Singapura 567 (1), dan Japan 554 (3) serta Korea 553 (4), maka prestasi Indonesia masih tertinggal (TIMSS 2007:481).    Laporan UNESCO dalam “2009 EFA Global Monitoring Report”, yang dikeluarkan akhir 2008, masih menempatkan posisi Indonesia pada nomor 71 dari 129 negara dalam pencapaian Education For All (EFA). Posisi EFA Development Index (EDI) Indonesia berada jauh di bawah Brunai Darussalam yang berada di urutan 36 dan Malasyia di urutan 45. Penilaian tersebut sealur dengan laporan “2008 An Asia-Pacific Citizens- Report Card Rating Governments Efforts to Achieve Education for All”, diterbitkan ASPBAE dan Global Campaign for Education, yang memberi skor C- (skala penilaian antara A+ sampai F) pada pemerintah RI.

Persoalan mutu pendidikan di atas menurut Ratna Megawangi (2006) disebabkan karena strategi pendidikan di Indonesia hanya mengembangkan potensi akademik (ukuran IQ tinggi). Pada hal, sunatullah menunjukkan bahwa dimanapun di muka bumi ini yang memiliki potensi akademik (IQ) tinggi di atas 115, tidak lebih dari 15% penduduk. Selai itu sunatullah juga memberikan realitas bahwa  setiap anak adalah berbeda. Tidak ada dua orang anak yang sama. Mereka dilahirkan dari orang tua yang berbeda, lingkungan yang berbeda, makan makanan yang berbeda, bermain dan berteman dengan orang yang berbeda, kesukaan dan minat yang berbeda, cara belajar yang berbeda, kemampuan kognitif yang berbeda dan masih banyak lagi keberbedaan yang lain. Perbedaan atau keberagaman potensi ini belum diakomodasi oleh kurikulum dan pembelajaran di sekolah, siswa masih diperlakukan dengan proses dan evaluasi yang serba sama.

Dalam rekening pendidikan di Indonesia masih banyak berisi           permasalahan   pendidikan yang secara sistemik dan sistematis harus segera         mendapat perhatian     dari para pengambil kebijakan pendidikan nasional. Hasil       Survei Komite Nasional          (Komnas) Perlindungan Anak terhadap 4500 remaja        SMP dan SMA di 12 kota      besar di Indonesia pada tahun 2007 yang lalu            ditemukan bahwa:

¨  97 %     Pernah nonton film porno

¨  93, 7% Pernah ciuman, petting, oral seks

¨  62,7 %  Remaja SMP tidak gadis

¨  21,2 %  Remaja SMA pernah aborsi .

Hidup Mulia dengan Taqwa

Hidup Mulia dengan Taqwa

Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 memberikan arah bahwa Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Jika mutu pendidikan sebagaimana pada data-data di atas, proses pendidikan kita perlu dievaluasi secara sistemik dan sistematis dimanakah letak persoalannya, sehingga menyebabkan prestasi belajar siswa di bawah standar dan akhlak siswa pun sangat memprihatinkan. Data-data di atas harus memotivasi seluruh pengambil kebijakan dan praktisi pendidikan pada seluruh level atau jenjang. Semua sekolah harus ikut bertanggung jawab untuk melakukan kreasi dan inovasi kurikulum, pembelajaran maupun manajemen.   .

Hasni Mohammeed (2008) menyatakan bahwa The real challenge for the Muslim   educationists today is to rediscover the roots of a truly Islamic education system (tarbiyyah-based) that extends deep into the foundations of our Islamic social, cultural,     political, economic and historical existence. In short, tarbiyyah, derived from the root   word ‘Rabb’ which means the Protector, Educator and Planner of the universe, embodies             a practical, integrated and holistic Islamic education system that aims to reconstruct our  Islamic identity and way of life in our children and ourselves.

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: